http://alabaspos.com/
Home  / Wawancara / .Ir.H. Abdul Wahab Daud.Kayu tak boleh,Carbon pun jadi
wawancara

.Ir.H. Abdul Wahab Daud.Kayu tak boleh,Carbon pun jadi

Sabtu, 10 April 2010 | 14:35:06
dok alabaspos.com
Sulitnya membuka lahan serta memproleh bahan kayu di Kabupaten Gayo Lues akibat adanya moratorium penebangan hutan ,menjadi bahan pemikiran bagi Abdul Wahab Daud,apalagi 2/3 bagian dari wilayah kabupaten yang bergelar “Negeri Seribu Bukit “ ini merupakan kawasan Hutan Konservasi berupa Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) serta Hutan Lindung,sehingga tidak memberikan banyak manfaat bagi Masyarakat,” masyarakat hanya diminta menjaga kelestarian hutan sebagai salah satu paru paru dunia,dan Hutan dijadikan sebagai penyerap karbodioksida dari pabrik- pabrik asap (industri) pabrik asap tidak pernah memikirkan bagaimana masyarakat harus menjaga hutannya,tanpa adanya keuntungan yang didapat,pemikiran ini terus mengganggu saya,bagaimana masyarakat bisa sejahtera dengan lahan yag terbatas di kawasan budidaya yang cuma 1/3 dari luas wilayah.padahal 99 persen penduduk Gayo Lues adalah petani,kalau soal menjaga hutan sejak zaman dulu masyarakat Gayo Lues cinta hutan,buktinya sampai sekarang luas hutan daerah ini,masih yang terluas dan terjaga di provinsi Aceh,serapan karbon oleh hutan Gayo Lues cukup besar,namun apa yg didapat selama ini,,? Sebagai bentuk kompensasi,”nihil” tidak ada sama sekali manfaat hutan bagi masyarakat tempatan,:yang jelas serapan karbon dinikmati oleh negara negara penghasil asap. Ungkapan perasaan ini terlontar dari sosok Abdul Wahab Daud, seorang pejabat yang menduduki posisi asisten II di Pemkab Gayo Lues,sambil merubah posisi duduknya didalam ruangan kerja yang berdiameter 4x5 meter itu,bang Wahab Daud (panggilan akrabnya) lalu menyambung pembicaraan.” Kalau hutan sudah tidak boleh diganggu lalu apa yang bisa diandalkan bagi pembangunan Kabupaten ini,dan inspirasi datang,kalau memang kayu di hutan tidak bolerh diganggu juga lahannya tidak boleh digunakan sebagai areal pertanian,jalan satu satunya adalah,menjual karbon yang ada dalam potensi hutan,”ini yang terpikir saat itu ketika saya masih duduk sebagai Kepala Bappeda,sehingga saya meminta beberapa staf yang di Bappeda merencanakan bagaimana potensi karbon dihutan Gayo Lues bisa di perdagangkan,ke dunia Internasional sesuai kesepakatan Kiyoto,pertemuan bali dan Copenhagen accord.”inikan ada uangnya sebagai kompensasi,sehingga Bappeda meminta tim dari ITB Bandung melakukan Riset dan menghitung berapa volume dari Potensi karbon hutan di Gayo Lues ini,dan yang menjadi pusat penelitian saya minta dikawasan kecamatan Putri Betung,kenapa saya lakukan ini,,? Abdul Wahab Daud menggeser kursinya dan mempersilahkan alabaspos minum air mineral yang telah disediakan stafnya,”kawasan Putri betung merupakan Incluve dari TNGL dan penduduknya cukup ramai,dan mereka hidup dalam batas wilayah Hutan,dan hutan masih terjaga dengan baik,ini bukti bahwa masyarakat Gayo Lues masih mampu menjaga dan melestarikan hutannya,sehingga pihak peneliti dari ITB juga merasa heran,penduduk tidak mengganggu dan merambah kawasan hutan,puluhan tahun mereka menjaganya,lalu apa yang dapat.? Kalau mereka mau,,bukankah hutan itu sudah gundul saat ini,karena Undang Undang soal TNGL itu,baru beberapa tahun saja di berlakukan.dengan adanya data potensi karbon sebesar lebih dari 143 juta Ton,yang dimiliki oleh Gayo Lues,tentunya ini akan menjadi modal,untuk menagih Kompensasi karbon,sehingga masyarakat Gayo Lues ,dapat memperoleh hasil dari apa yg telah mereka jaga selama ini,jika kompensasi karbon tidak berhasil,dan masyarakat Gayo Lues hanya disuruh menjaga hutan,sampai kapan hutan itu akan bertahan,sebab pertambahan penduduk semakin meningkat,kebutuhan lahan juga meningkat,apakah hutan hutan itu mampu bertahan,? Kita lihat saja nanti,,Abdul Wahab Daud mengakhiri pembicaraanya.(azh)
Share | Get Earn Money from Chitika Premium

2 Comment(s) about this article.
1. andangaceh | 09/08/10. 22:49:03
sy setuju dgan kta pak daut,,,tp sy pling sedih d aceh singkil msih bnyak penebangan hutan,,,klu k lamaan akan punah hutan a.sgkil...tak pernah terhitung karbon a,sgkil..sy udah melihat sekitar hutan a,sgkil...banyak rusak....sy minta solusi dari p,daut..

2. aryo | 01/05/10. 22:27:56
seharusnya kebutuhan terhadap kayu untuk bahan bangunan perlu adanya kebijakan yg jelas dari pemda gayo lues serta pihak yg berkompeten untuk tu,,sehingga masyarakat tidak terlalu kesulitan mendapatkan kayu untuk bangunan rumah, mengingat masyarakat kita

Leave your comment.
Name*:
Email*:
Website:
Comment*:
: * Type the captcha!

BERITA LAINNYA

TERPOPULER

Minggu, 13 Agustus 2017 | 13:41:23    klik: 435

Fantastic : Muri Hitung Penari Saman Ternyata Ini Jumlahnya

Kamis, 10 Agustus 2017 | 17:37:19    klik: 416

Pak Presiden Tolonglah Datang Lihat Tari Saman 10001 Peserta di Gayo Lues

Jumat, 4 Agustus 2017 | 21:06:42    klik: 334

Inilah Hasil Sementara Tournament Bupati Cup Gayo Lues

Senin, 7 Agustus 2017 | 19:26:18    klik: 268

Bupati Cup : Kutalintang A Tekuk Pospa Penampaan 1-0

Senin, 14 Agustus 2017 | 14:26:56    klik: 198

Gubernur Irwandi : 20 Ribu Penari Saman Se Aceh Kenapa Tidak ?


copy right 2010-2012. All Rights Reserved
  • Home
  • Redaksi
  • Buku Tamu
  • Index
  • RSS
  • Versi Mobile

  • Headline
  • Aceh Louser Antara
  • Aceh Barat Selatan
  • ACEH TENGGARA
  • Politik
  • Hukum
  • Sosial Ekonomi
  • Sport
  • Seni Budaya
  • Infotaiment
  • Sportaiment
  • Profil Tokoh
  • Wawancara
  • Profil Daerah
  • Pariwara
  • Nanggroe Aceh Darussalam
  • Features
  • Sumut
  • Opini
  • Jurnalis Warga
  • BACK TO TOP
    proudly by. arieweb