http://alabaspos.com/
Home  / Profil Tokoh / Gaura.bule si pemerhati Saman Dance.
profil tokoh

Gaura.bule si pemerhati Saman Dance.

Senin, 22 Februari 2010 | 20:38:01
dok,Dekranasda Gayo Lues
Gaura Mancacaritadipura.KRT
Ada yang unik dari kegiatan verifikasi tarian saman yang akan di ajukan sebagai warisan dunia tak benda kepada UNESCO.dibalai Musara Blengkejeren,perhatian peserta yang hadir selalu tertuju kepada sosok pria yang duduk dibagian posisi tengah ,antara peserta dengan tim peneliti tarian saman ,perhatian peserta bukan karena sosok ini sebagai operator infokus dan memainkan jarinya di tuts laptop . serta selalu sibuk mengarahkan kameranya kesuatu moment di ruangan tersebut.melainkan sosok asing sebab pria bule ini, menimbulkan sebuah pertanyaan bagi yang hadir,siapakah pria bule yang berhidung mancung dengan tinggi badan terbilang jangkung ini.semula alabaspos sedikit ragu mendekatinya,namun entah angin apa yang membawa sibule mendekati alabaspos dan dengan senyum dan  keramahan seperti orang Indonesia lazimnya,dia menyapa” tarian saman ini memang bagus dan unik,ini perlu dipertahankan keberadaannya,saya punya gambar dan vidionya,saat anak anak kecil di Gayo Lues bermain tari saman diatas kerbau ketika mengembalakan ternaknya,” sibule membuka pembicaraan ,lalu membuka dompetnya untuk memberikan kartu namanya”ohhh sory,,, maaaf,,ya ,,saya ambil dulu di tas saya,yang didompet sudah habis” sibule tak lama kembali,sebuah kartu nama telah berpindah tangan” Gaura Mancacaritadipura.KRT.kog bukan nama bule kebanyakan malah namanya,nama jawa.”jangan terkejut itu nama saya,” ujarnya dengan bahasa indonesia yang fasih.”memangnya anda dari mana asalnya kog pake nama indonesia (jawa-red) “ dengan senyumnya yang khas dan kepalanya masih melekat  kain corak kerawang gayo(bulang teleng-gayo red) Gaura menyatakan dirinya berasal dari Australia.”saya sudah 32 Tahun menetap di Indonesia,istri saya juga orang indonesia suku Ambon,ambon manise,,hahaha,,,memang saya cinta indonesia,hidup dan matiku untuk Indonesia” Gaura,sangat serius,beberapa peserta yang memperhatikannya berbicara terlihat tersenyum.” 22 hari di Gayo Lues sangat menyenangkan,iklimnya tidak panas tidak dingin, sangat bagus,,masyarakatnya cukup ramah tamah,saya sudah keliling Gayo Lues,melihat secara dekat kehidupan tarian saman dalam budaya masyarakatnya.memang tidak ada di Gayo Lues ini,perempuan bermain tari saman” gaura berbicara dengan bahasa tubuh yang tidak kaku,pembicaraan terputus sebab Gaura akan kembali ke laptopnya.memaparkan ke infokus dalam pembahasan tentang tarian saman.
“Bagaiamana ,,? Kita sambung lagi..”Gaura mencoba menggoda Alabaspos.lalu duduk di sofa ruangan balai musara,beberapa remaja wanita  yang ikut dalam kegiatan verifikasi meminta berfoto bersama Gaura ,”tunggu sebentar ya,,, mereka minta foto bersama” Gaura pamit dan beranjak dari sofa panjang berwarna hijau muda itu.
“anda pasti tidak percaya kalau saya warga negara Indonesia” Gaura membuka pembicaraan lagi,lalu merogoh kantongnya dan membuka dompetnya,”ini lihat ,,,” Gaura menunjukkan Kartu Tanda penduduknya.
“Bagaiamana anda melihat tari saman yang dimainkan oleh wanita yang mengatakan tariannya adalah tarian saman,” alabaspos membuka kembali pembicaraan seputar saman.” Kalau saya melihatnya itu adalah sebuah tiruan dan itu bukan saman,karena saman yang asli memilki beberapa dasar,dalam tarian,seperti kostum,doa,syair dan dibawakan oleh kaum lelaki.inilah sebenar saman.”ujar Gaura yang juga berperan  mengajukan jenis musik anglung,Seni wayang ke UNESCO sebagai warsian Dunia.
“kenapa tertarik dengan saman ?” Gaura mencoba menjawab, kamera miliknya masih menggantung dilehernya,” pertama melihat saman yang asli di Banda Aceh,timbul niat saya meneliti dan melihat  langsung tarian saman  di budaya pemiliknya Gayo Lues.saya berbicara dengan Staf ahli Menko Kesra Risman Musa,dan beliau setuju untuk menggali lebih jauh tentang tarian saman dan kalau bisa dijadikan sebagai warisan dunia bukan benda.akhirnya kesempatan itu saya lakukan selama 22 hari bersama 20 rekan lainnya.berada di Gayo Lues.Gaura terlihat semangat lalu lelaki asal Australia ini,membuka kain pengikat kepalanya( bulang teleng-gayo red) “ saya sudah dapat bulang teleng ,dan ini ada daunnya,,yang masih melekat,hehehe,,harum sekali daun ini,,” Ucap Gaura,dalam pesannya Gaura berharap agar tarian saman ini,lebih dihidupkan dalam Budaya Gayo ,bukan hanya ditengah masyarakat desa saja,tetapi bisa dijadikan sebagai muatan lokal disekolah-sekolah ,tarian saman jangan sempat sirna dan ini perlu ditingkatkan lagi kedepan,sebab saman adalah milik budaya Gayo Lues.dan beberapa Suku Gayo yang lain,yang berada di Sebagian Aceh Timur,Tamiang, Aceh Tenggara.Aceh Tengah.( Azhari Lubis)
Share | Get Earn Money from Chitika Premium

2 Comment(s) about this article.
1. yuliana s lingga | 24/02/10. 14:09:20
saya senang ada orang asing yg gemar dan selalu inden terhadap budaya gayo...terima kasih sebelumnya mr.gaura

2. Hascaryani | 24/02/10. 08:00:20
Acungan jempol buat Gaura...

Leave your comment.
Name*:
Email*:
Website:
Comment*:
: * Type the captcha!

BERITA LAINNYA

TERPOPULER

Selasa, 3 Oktober 2017 | 00:06:45    klik: 402

Abdul Rasad Dan Rajab Marwan Tidak Dapat Hadiri Pelantikan Bupati Gayo Lues

Rabu, 4 Oktober 2017 | 17:39:11    klik: 281

Pelaksana Pelantikan Bupati Dan Wakil Bupati Gayo Lues Dipolisikan


copy right 2010-2012. All Rights Reserved
  • Home
  • Redaksi
  • Buku Tamu
  • Index
  • RSS
  • Versi Mobile

  • Headline
  • Aceh Louser Antara
  • Aceh Barat Selatan
  • ACEH TENGGARA
  • Politik
  • Hukum
  • Sosial Ekonomi
  • Sport
  • Seni Budaya
  • Infotaiment
  • Sportaiment
  • Profil Tokoh
  • Wawancara
  • Profil Daerah
  • Pariwara
  • Nanggroe Aceh Darussalam
  • Features
  • Sumut
  • Opini
  • Jurnalis Warga
  • BACK TO TOP
    proudly by. arieweb