http://alabaspos.com/
Home  / Opini / Empat Pilar Demokrasi Ala Suku Etnis Gayo Lues
opini

Empat Pilar Demokrasi Ala Suku Etnis Gayo Lues

Oleh : Azhari Lubis
Senin, 3 Maret 2014 | 19:36:45
Azhari Lubis
Empat Pilar Demokrasi yang pernah di wacanakan oleh Almarhum Taufik Kiemas ketika beliau,menjadi ketua MPR RI,merupakan sebuah wacana yang baik dan mendapat sambutan yang cukup besar dari publik Indonesia.dimana empat pilar demokrasi tersebut menyebutkan Pancasila,Undang Undang Dasar 1945 dan Bhinneka tunggal ika.

Bagi Comunitas etnis Suku Bangsa Gayo khususnya di Gayo Lues,seribuan tahun lalu telah mengenal makna demokrasi,dimana sistem demokrasi yang dianut oleh suku Etnis yang berada dikaki pegunungan Leuser ini,lahir dari budaya setempat dan merupakan karya cipta para leluhur suku pemilik tari saman ini.

Bayangkan sistem pemerintahan demokrasi yang dianut dalam budaya Gayo ini,bukan tidak mungkin merupakan cikal bakal, dari sistem pemerintahan demokrasi yang banyak dianut oleh negara negara didunia ini,termasuk Indonesia setelah terjadinya gerakan reformasi,dimana rakyat memilih secara langsung,wakil rakyat dan pemimpinnya,baik Presiden,Gubernur maupun Bupati dan Wali Kota.

Sistem pemerintahan demokrasi bagi bagi suku Gayo disebut dengan sara opat atau jema opat,sara opat ini merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan budaya suku Gayo.sebab sara opat atau jema opat merupakan sebuah tonggak dalam mengurusi masyarakat,sehingga sejak dari jaman berdirinya kerajaan tua di bumi Aceh yakni kerajaan Linge yang masih menganut agama animisme hingga runtuhnya kerajaan itu ketika Islam mulai mempengaruhinya,budaya  berdemokrasi tetap di jaga keutuhannya tanpa ada sentuhan dari budaya lain,ini sangat masuk akal karena Gayo berada dalam kawasan terpencil di bawah kaki gunung leuser.

Sistem pemerintahan yang demokrasi dengan sebutan sara opat,terindikasi tidak adanya garis keturunan dinasty raja,atau yang sering disebut berdarah biru di kawasan negeri ini,artinya sistem pemerintahan walau dipimpin oleh seorang reje( raja) atau pengulu,bukan melalui mekanisme turun temurun melainkan dipilih secara langsung,sehingga kerajaan Linge sebagai kerajaan besar yang berdiri di bumi Gayo,tidak meninggalkan garis turunan secara dinasty melainkan dipilih,hal ini dapat tergambar dalam sebutan bagi masyarakat Gayo tentang asal muasal mereka,yang disebut "Asal Serule awal Linge" artinya bukan tidak mungkin Linge merupakan bagian tata pemerintahan sedangkan Serule merupakan kawasan rakyat yang memilih perangkat sara opat,berkedudukan di singgasana Linge.dua sisi berbeda namun mengungkapkan sebuah makna setara,antar Serule dan Linge.tanpa Serule Linge tidak akan ada begitu juga sebaliknya,begitu juga dengan sistem perkawinan di masa itu hanya ada dua,kawasan yakni Serule dan Linge (Lingga),dua kawasan ini saling mengambil,untuk dinikahi,karena tidak mungkin perkawinan itu,dapat dilakukan dari satu garis keturunan yang sama.

Sara Opat atau jema Opat,terdiri dari Sudere (rakyat) urang tue (para ahli adat dan budaya) Pugawe (pekerja) Reje (pengulu) pemimpin.

Melihat kedudukan dari struktur sistem pemerintahan sara opat ini,dapat dijelaskan bahwa sudere (rakyat) berada pada posisi pertama,ini memaknai bahwa rakyat merupakan pemilik kedaulatan dalam pemerintahan,rakyat yang memilih siapa yang bakal menjadi orang tue,pugawe dan Reje.

Sudere (rakyat) memilih orang tue,setelah melihat dari kemampuan seseorang,apakah mampu menguasai hukum adat yang telah digariskan dalam budaya suku Gayo,mereka akan berfungsi sebagai penasehat Reje,pengawal adat istiadat yang mampu menjadi sosok panutan,sebagai ahli adat,mereka juga merupakan wakil dari rakyat (sudere),sedangkan Pugawe dipilih untuk melaksanakan berbagai kegiatan atau dapat dikatakan sebagai para pekerja,yang akan mendukung seluruh kegiatan pemerintahan sara opat,termasuk budayawan,seniman,artinya budaya ciptaan leluhur suku Gayo,termasuk menjadi tanggung jawab pugawe dalam melestarikannya,bertugas sebagai pengumpul cukai,untuk anggaran pemerintahan sara opat,sedangkan Reje (pengulu) yang dipilih oleh sudere merupakan sebuah simbol satu kesatuan,reje yang telah dipilih harus mampu menguasai tata cara pemerintahan dengan baik,dan Reje yang terpilih harus mampu melayani rakyat (sudere) bukan berarti Reje yang dilayani rakyat.dengan sistem demokrasi yang begitu tinggi ini bagi Suku Gayo,tidak pernah terdengar sebuah cerita atau legenda,yang menyatakan adanya perebutan kekuasaan sebagai raja (pengulu),seperti terjadi pada sistem kerajaan dinasty di berbagai kawasan di muka bumi ini,tentunya ini hanyalah sebuah tulisan yang dikutip penulis dari berbagai sumber,tentunya belum memadai dan penulis berharap ada masukan dari pembaca. 


Share | Get Earn Money from Chitika Premium

Leave your comment.
Name*:
Email*:
Website:
Comment*:
: * Type the captcha!

BERITA LAINNYA

TERPOPULER

Minggu, 13 Agustus 2017 | 13:41:23    klik: 452

Fantastic : Muri Hitung Penari Saman Ternyata Ini Jumlahnya

Kamis, 10 Agustus 2017 | 17:37:19    klik: 433

Pak Presiden Tolonglah Datang Lihat Tari Saman 10001 Peserta di Gayo Lues

Jumat, 4 Agustus 2017 | 21:06:42    klik: 361

Inilah Hasil Sementara Tournament Bupati Cup Gayo Lues

Jumat, 18 Agustus 2017 | 22:43:25    klik: 324

Inilah Tim Yang Akan Berlaga Pada Babak 8 Besar Bupati Cup, Serta Jadwalnya

Rabu, 23 Agustus 2017 | 19:49:52    klik: 315

Ada "Andik Vermansyah " Jery di Gayo Lues Jadi Perhatian Penggila Bola Kaki


copy right 2010-2012. All Rights Reserved
  • Home
  • Redaksi
  • Buku Tamu
  • Index
  • RSS
  • Versi Mobile

  • Headline
  • Aceh Louser Antara
  • Aceh Barat Selatan
  • ACEH TENGGARA
  • Politik
  • Hukum
  • Sosial Ekonomi
  • Sport
  • Seni Budaya
  • Infotaiment
  • Sportaiment
  • Profil Tokoh
  • Wawancara
  • Profil Daerah
  • Pariwara
  • Nanggroe Aceh Darussalam
  • Features
  • Sumut
  • Opini
  • Jurnalis Warga
  • BACK TO TOP
    proudly by. arieweb